Pernahkan kalian merasa saat pikiran kita sangat ingin tersenyum, tapi bibir ini serasa susah digerakkan. Saat hati sedang sendu, ya itu yang Ami rasakan. Tiga bulan yang lalu Ikhwan ini menyapa, menawarkan menjadi teman, sampai kapan pun mereka hanya teman. Mereka mulai saling memberi kabar, saling menyapa satu sama lain. "Jaga perasaanmu ukhti", ikhwan ini selalu mengingatkan. Salahkan jika timbul perasaan, salahkah??? Jika kamu selalu menghubungi saya? Baiklah kamu jangan menguhungi saya lagi. Keputusan untuk berhenti menyapamu adalah pilihan terbaik. Sampai suatu ketika hp Ami berbunyi, Dia datang lagi, hubungan seperti apa kali ini. Satu bulan berlalu mereka semakin merasa dekat, setidaknya itu yang Ami rasakan. Ami berfikir perasaan itu sama sampai suatu malam tersadarkan oleh berita.
Ikhwan ini menikah dua minggu lagi. Waktu yang sangat cepat untuk mengikhlaskanmu. "Aku harus datang", Ami memberi semangat dirinya sendiri. Memulai memeluk erat masa lalu, berdamai dengan masa lalu, memaafkan untuk membahagiakan diri.
Hari pernikahan sudah berlalu, Per temanan harus berlanjut, kubur lah masa lalu mu di dalam hati mu, menjadi rahasia mu, hiduplah lagi bersahabat lagi, Bangun cinta bukan jatuh cinta.
Ikhwan ini menikah dua minggu lagi. Waktu yang sangat cepat untuk mengikhlaskanmu. "Aku harus datang", Ami memberi semangat dirinya sendiri. Memulai memeluk erat masa lalu, berdamai dengan masa lalu, memaafkan untuk membahagiakan diri.
Hari pernikahan sudah berlalu, Per temanan harus berlanjut, kubur lah masa lalu mu di dalam hati mu, menjadi rahasia mu, hiduplah lagi bersahabat lagi, Bangun cinta bukan jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar