Kamis, 26 April 2012

glumerulonefritis


GLOMERULONEFRITIS
           

Glomerulonefritis : peradangan dalam glomerulus pada ginjal bilateral
Patogenesis :
            - streptococcus
            - non streptococcus ( pneumococcus, sifilis, tifoid)

Patofisiologi :
            Ag (Streptococcus) – Ab (antibodi)
                                    ↓
komplemen / kopleks imun bersikulasi
                                    ↓
Terperangkap dalam membran basalis glomerulus (MBG)
                                    ↓
                        Peradangan   →        tarik PMN , trombosit
                                                            pelepasan enzim lisosom
                                                                        ↓
                                                            rusak sel endotel dan MBG
                                                                        ↓
                                                            Kebocoran kapiler glomerulus
Gejala:
- Awal : lelah, anoreksi ,demam, nyeri kepala, Mual muntah
- Lanjut :
·         Hematuria → karena kebocoran kapiler
·         Proteinuria → karena kebocoran kapiler
·         Oligouria
·         Edema ; albumin banyak yang terbuang sehingga kadar albumin darah menurun dan sebabkan edema
·         Hipertensi  → gangguan ekskresi Na

Pemeriksaan lab
  1. Urine :
         Sedimen urin : eritrosit (+) >>, leukosit (+)
         Makros : urine merah
  1. Darah :
         Hb : (N) / menurun
         AL ; (N) / meningkat
























PATOFISIOLOGI PENYAKIT HEMATOLOGI

ANEMIA
Definisi
            Anemia : pengurangan jumlah eritrosit, kuantitas hemoglobin  dan hematocrit per 100 ml darah.
Semua system organ dapat terlibat dan dapat menimbulkan banyak manifestasi. Manifestasi ini tergantung pada :
1.      kecepatan timbulnya anemia
2.      umur individu
3.      mekanisme kompensasi
4.      tingkat aktivitas
5.      keadaan penyakit yang mendasari
6.      parahnya anemia tersebut
Patofisiology
            Jumlah eritrosit berkurang → jumlah O2 ke jaringan/ organ berkurang
            Pengurangan massa eritrosit yang terlalu berat dalam beberapa bulan akan menimbulkan mekanisme kompensasi tubuh untuk menyesuaikan diri.
            Mekanisme kompensasi dapat melalui:
1.      Peningkatan curah jantung dan pernafasan → menambah pemasukan O2 ke jaringan
2.      Meningkatkan pelepasan O2 oleh hemoglobin
3.      Mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan
Gejala-gejala
1.      pucat (kulit, konjungtiva, telapak tangan, warna kuku)
2.      takikardi
3.      gelisah
4.      sesak napas
5.      cepat lelah saat beraktivitas
6.      sakit kepala
7.      gejala-gejala saluran cerna (mual, anoreksia, sariawan)
Klasifikasi
Menurut morfologi
  1. Anemia normositik normokromik
    • Ukuran dan bentuk eritrosit normal
    • MCV dan MCHC normal
    • Terjadi karena:
                                                              i.      Kehilangan jumlah darah yang akut
                                                            ii.      Penyakit kronis
                                                          iii.      Gangguan renal
                                                          iv.      Kegagalan sumsum tulang
  1. Anemia makrositik normokromik
    • Ukuran eritrosit membesar, bentuk normal (konsentrasi hemoglobin normal)
    • MCV meningkat dan MCHC normal
    • Terjadi karena:
Gangguan / terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti pada defisiensi vit B12 dan/ atau asam folat, dapat juga pada kondisi post kemoterapi
  1. Anemia mikrositik hipokromik
    • Jumlah Hb < normal, ukuran < normal
    • MCV <, MCHC <
    • Terjadi karena:
                                                              i.      Defisiensi Fe
                                                            ii.      Kehilangan darah kronis
                                                          iii.      Thalasemia (penyakit Hb abnormal kongenital)

Menurut etiologi
1.      Peningkatan kehilangan eritrosit
O.K : perdarahan ( trauma, tukak, perdarahan kronik pada polip di kolon, keganasan, hemoroid)
penghancuran sel (hemolisis)
2.      Gangguan/ penurunan pembentukan sel
Terjadi pada:
·   Keganasan yg telah menyebar (leukimia, kanker payudara)
·   Obat dan zat toxic
·   Radiasi
·                           Penyakit kronis ginjal
·                           Kekurangan Fe, vit b12, asam folat

Anemia aplastika
            Adalah gangguan pada sel-sel induk sumsum tulang sehingga jumlah sel darah tidak cukup sehingga terjadi  Pansitopenia ( AE<. AL <, AT <)
Gejala :
·         Gejala anemia
·         Perdarahan
·         Petekiae
·         Mudah infexi
Anemia defisiensi besi
            Adalah penurunan kuantitatif sintesa Hb oleh karena defisiensi Fe
Penybab:
·         Asupan Fe tidak mencukupi
·         Gangguan absorpsi
·         Perdarahan yang menetap dan lembat
Anemia Megaloblastik
·         anemia makrositik normokromik oleh karena vit B12 dan asam folat sehingga sintesis DNA terganggu
Gejala:
·         malnutrisi
·         radang pada lidah
·         diare
·         anoreksia

















Problematika kesehatan reproduksi remaja


Problematika kesehatan reproduksi remaja


1.Mengapa remaja perlu diperhatikan ?
a.jumlah  remaja sangat besar
b.remaja merupakan masa transisi yang labil
c.remaja merupakan generasi harapan bangsa

        Mengapa informasi KRR diperlukan ?
Remaja mempunyai hak atas informasi dan pelayanan yang dibutuhkannya untuk membuat keputusan – keputusan yang sehat dalam hidupnya.
Masyarakat  Internasional juga menegaskan bahwa hak  dan kewajiban orang tua untuk memberikan pedoman tidak boleh menghalangi remaja memperoleh akses pada informasi dan pelayanan yang mereka butuhkan untuk memperoleh kesehatan reproduksi yang baik.

2.Membantu remaja mengambil keputusan
       Dengan informasi dan pelayanan KRR yang tepat , remaja terbantu untuk mengenali dirinya sendiri maupun hal – hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya.Dengan mempunyai informasi yang benar , mereka dapat membekali dirinya dengan perilaku dan ketrampilan yang dapat melindungi dirinya dari berbagai resiko.Remaja harus dapat mengambil keputusan - keputusan  yang tepat menyangkut kesehatan reproduksinya, misalnya : menolak hubungan seks pra nikah , menjaga diri dari ajakan untuk menyalahgunakan NAPZA , dan seterusnya.
           
Mengapa program KRR penting ?
1.Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat rendah
Berbagai penelitian di Indonesia , bahkan di berbagai negara lain , menunjukkan betapa masih rendahnya pengetahuan remja mengenai
cara – cara  melindungi dirinya terhadap resiko kesehatan reproduksi seperti pencegahan KTD, IMS , HIV / AIDS.Akibatnya angka KTD di kalangan remaja sangat tinggi dan angka HIV / AIDS pada kelompok remaja usia 15 – 24 terus meningkat.Lebih dari 10 juta remaja sudah tertular HIV di  dunia.Setiap tahun hampir  50 % dari infeksi baru HIV terjadi di kalangan remaja usia produktif, yaitu antara 15 – 24 tahun.Sepertiga dari kasus IMS terjadi di kalangan remaja di bawah usia 25 tahun.
MAU MENUNGGU BERAPA LAMA LAGI ? MASIH PANTASKAH KITA BERDIAM DIRI DAN MEMBIARKAN SITUASI BERJALAN APA ADANYA ?
2.Akses  pada informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi sangat terbatas
          Masih berlakunya budadaya “ tabu” untuk membahas masalah – masalah  seksualitas membuat informasi tentang seksualitas tidak mudah diperoleh.Remaja mempunyai akses yang terbatas pada informasi yang benar baik dari orang tua,dari sekolah maupun media massa,karena remaja seringkali tidak memperoleh informasi yang jelas mengenai seksualitas dan kesehatan , maka mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapi hubungan seksual atau tidak mampu melindungi dirinya sendiri terhadap IMS , KTD ,dan resiko lainnya.

3.Informasi yang menyesatkan semakin gencar
            Orang dewasa, khususnya orang tua sebagai sumbere utuma bagi anak dan remaja untuk memperolah informasi ,semakin lama semakin langka ( karena kesibukan) atau semakin tidak memahami ancaman-ancaman baru terhadap kesehatan reproduksi.

4.Kesehatan reproduksi berdampak jangka panjang
        Keputusan – keputusan menyangkut kesehatan reproduksi mempunyai konsekuensi atau akibat – akibat jangka panjang dalam perkembangan dan kehidupan social remaja.Kesehatan , pendidikan dan persiapan untuk dunia kerja saling  berkaitan,contoh : Kehamilan Tak Diharapkan (KTD) bias langsung mengganggu kehidupan seorang remaja perempuan, membatasinya dari pendidikan lebih lanjut.Tertular HIV karena hubungan seksual yang tidak aman bias mengakhiri sebuah masa depan yang sehat dan cerah pada seorang remaja.Berbagai resiko ini  bias berakibat serius secara medis,psikologis,social dan ekonomi.

5.Status KRR yang rendah akan merusak masa depan remaja
            Kebanyakan remaja dimanapun menjadi aktif secara seksual pada usia pubertas.Berbagai penelitian di berbagai Negara maupun di Indonesia sendiri.

6.Kesepakatan Internasional
        Masyarakat Internasional terus menerus mengukuhkan pentingnya memperjuangkan hak remaja untuk memperoleh informasi dan pelayanan KRR.Salah satu kesepakatan yang harus di jalankan adalah memenuhi HAK remaja untuk memperoleh informasi dan pelayanan KRR yang dibutujkan remaja.




SPUTUM


SPUTUM


A.    Definisi
Sputum adalah secret dibatukkan dan berasal dan bronkhie, bukan bahan yang berasal dari tenggorokan, hidung atau mulut.

B.     Macam-Macam yang digunakan untuk Pemeriksaan Laboratorium
C.      Sputum pagi (sampel yang terbaik)
Sputum yang dibatukkan pertama kali saat bangun tidur,
1.      Sputum Induksi
D.    Cara Pengambilan Sputum
1.      Pada anak
a.       Nasofaring swab (usapan nasofaring / sekrit tenggorok)
-          Sputum tertinggal pada dinding tenggorok anak, sehingga ulasan dinding nasofaring dapat diambil sebagai sampel sputum.
-          Cukup baik untuk penderita bronchitis disebabkan oleh Haemophilus influenza.
b.      Caughplate :
Batuk langsung pada cawan / piring
c.       Cough Swat Technique
-          Cara ini mudah dikerjakan  dan sampel tidak terkontaminasi
-          Mulut dibuka dengan bantuan spatel, lidah ditekan maka epiglottis terlihat, epiglotis dihisap dengan swab untuk merangsang batuk.
2.      Pada penderita sukar batuk
Dilakukan dengan sputum induksi : menaikkan sekresi bronchus dan merangsang batuk, dilakukan dengan 10% propyline glycol.
3.      Pada orang dewasa
Sampel yang digunakan sputum pagi dan sputum induksi
4.      Pada khasus tertentu
Didapat dengan aspirasi trantracheal
a.       Pada kontra indikasi trantracheal aspirasi àpenderita tak kooperatif, diatese hemoragi, batuk berat, kardiak anitmia
b.      Pada komplikasi à pendarahan, inteksi pada trachea, episema sub human
*Sampel sputum sering terkontaminasi dengan salifa, sekresi, sanafaring dan bakteri
        * Untuk mengurangi kontaminasi dilakukan.
-          Kumur terlebih dahulu sebelum sampel diambil
-          Memakai ekspeteran / mukolitik
Ø  Wadah yang telah digunakan disterilkan dalam autoclave, karton sputum harus dibakar, meja kerja dan mikroskop dibersihkan dengan larutan Lysol 10%
E.     Pemeriksaan Laboratorium
1.      Pemeriksaan Makroskopis
2.      Prinsip percobaan : Untuk menggambarkan rupa sputum dengan cahaya tembus, ambil sejumlah sputum secukupnya, ratakan dalam sebuah cawan petri dengan batang steril, dengan bantuan sinar matahari nyatakan rupa sputum secara makroskopis. Sedang, untuk pemeriksaan unsur khusus, perlu latar belakang hitam dan dengan loupe.
3.      Bahan pemeriksaan : sputum
4.      Alat yang digunakan : piring petri, batang steril, loupe
5.      Reagen:(-)
6.      Tata cara pemeriksaan :
Volume           : Nyatakan dengan sedikit banyak, banyak, tidak ada sedang. Jika banyak atau sedang ukur berapa aja.
Warna              : Nyatakan dengan kuning, hijau, coklat, merah
Bau                  : Nyatakan dengan tidak berbau, berbau, barbau faeces atau berbau busuk.
Konsistensi      : Nyatakan dengan jernih, serus, opalesen atau kental, mukus, purulen, seromukus, mukopurulen.
Unsur khusus  :  Nyatakan dengan ada (+)
                           Misal masa pekerjaan (+)
Keadaan normal sputum :
Volume           : Sedikit atau tak ada (tak lebih 25 m) per 24 jam
Warna              : Tidak berwarna
Bau                  : Tak berbau
Konsistensi      : seperti air, sedikit kental
Unsur khusus : tidak ada
B. 2. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS
B.2. a.  Natif
1.      Metode pemeriksaan : Pemeriksaan mikroskopis sediaan natif  
2.      Prinsip percobaan     : Untuk melihat unsur-unsur dalam sputum secara  mikroskopis perlu dilakukan pemeriksaan pada preparat natif.
3.      Sample      : Sputum

4.      Alat           : - Obyek glass
  - Kaca penutup
   - Api spiritus
  - Mikroskop
5.      Tata cara pemeriksaan       : Ambil sedikit sputum, ratakan pada obyek glas. Panaskan sediaan tersebut pada api. Biarkan dingin, periksa.
Dicari : serabut elastis, spiral curchmann, kristal- kristal, sel mengandung butir hyalin,lekosit,eosinofil,eritrosit,epitel,limfosit,jamur,parasit.
6.      Tata cara pembacaan hasil : Bila ada nyatakan dengan ada (+)
B.2.b   Pengecatan Gram.
1.      Metode pemeriksaan   : Pemeriksaan sputum dengan pengecatan GRAM
2.      Prinsip percobaan        : Untuk melihat unsur dalam sputum secara mikroskopis             perlu dilakukan pemeriksaan preparat dengan pengecatan.
3.      Sample                        : Sejumlah sputum
4.      Alat                             :- Obyek Glas
                                            - Api Spiritus
                                            - Mikroskopis
5.      Reagen
Gram A, Gentian violet 1 gr, phenol 10% 99cc
Gram B, Iodium 1 gr, Kalium Iodida 2 gr, Aquadest  30 cc
Gram C, Alkohol 90%
Gram D, Safranin 1 gr, Alkohol 96%cc, Aquadest 99 cc
6.      Tata cara pemeriksaan :
Preparat tipis yang telah direkat, digenangi larutan Gram selama 5 menit. Tanpa dicuci dimasukkan ke dalam larutan Gram B selama 30 detik / 40 detik. Segera cuci dengan air lalu dimasukkan larutan gram C sampai warnanya mulai luntur. Tepat pada waktu luntur, segera cuci dengan air dan masukkan ke dalam larutan gram D selama 5 menit. Cuci dengan air, biarkan kering, periksalah.
7.      Tata cara pembacaan hasil :
Bakteri Gram positif berwarna ungu
Bakteri Gram negative berwarna merah
Gram positif (+) :
Streptococcus                                Staphylococcus
Diplococcus                                  Mycobacterium tubercolosae
Gram negatif (-) :
Neisseria catharralis                      Neissera gonorrhoe
Hemopylus influenza                    Bacillus friedlander
B.2.c    Ziehl Neelsen.
1.      Metode pemeriksaan   : Pemeriksaan sputum pengecatan Ziehi Neelsen
2.      Prinsip pemeriksaan    : Untuk melihat unsur-unsur dalam sputum secara mikroskopis perlu di lakukan pemeriksaan pada preparat pengecatan.
3.      Sample                        : Sejumlah sptum
4.      Alat-alat                      : obyek glas
                                            Mikroskop
                                            Apispirtus
5.      Reagen
ZNA Fuchsin basis 1 gr, alkohol 96% 10 cc, phenol
5% dalam aqua 960 cc
ZNB HCL pekat 3 cc, alcohol 97 cc
ZNC Methylene blue
6.      Tata Cara Pemeriksaan
Preparat tipis yang telah direkat digenangi dengan larutan ZNA dan dipanaskan di atas lampu spirtus sehingga terlihat adanya uap keluar dari genangan, tetapi dijaga larutan jangan sampai mendidih, kemudian didinginkan. Ulang pekerjaan ini sampai tiga kali. Kemudian larutan dibuang dan preparat dicuci dengan air lalu dimasukkan ke dalam larutan ZNB Sambil digoyang-goyang sampai warna cat dilunturkan. Lalu cuci dengan air, kemudian masukkan ke dalam larutan ZNC selama 5 menit. Cuci dengan air dan keringkan di udara. Periksalah dengan mikroskop obyektif 100x
7.      Tata Cara Pembacaan Hasil
Bakteri ZN positif: berwarna merah
Bakteri ZN negative :berwarna biru
Niehl neelsen untuk pemeriksaan bakteri tahan asam.

GETAH LAMBUNG


GETAH LAMBUNG

Lambung adalah cairan yang terdapat di dalam lambung
Yaitu : - Air
            - Asam lambung
            - Enzim pencernaan                 : Pepsin, Renin, dan Lipase
            - Garam-garam mineral           : - Sodium Chlorida (NaCl)
                                                              - Potassium Chlorida (KCl)
                                                              - Phospate
- Mucin

Macam-macam getah lambung :
  • Asam chloridan (HCl)
Bersifat baktericid ringan yang dihasilkan sel parietal
Asam chlorida juga berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin.
  • Pepsin
Fungsi : untuk memecah protein  menjadi protease
Di dalam pankreas (sebagai proteolitik) :
Pepsin  tripsin & chemotripsin  asam amino
Pepsin dihasilkan di sel gablet yangn disebut chief cell
  • Lipase
Fungsi : memecah lemak menjadi asam lemak dan gliseral
  • Mucin
Fungsi             : untuk melindungi lambung
untuk melindikan makanan
Dihasilkan oleh neck cell yang terdapat di dalam fundus FIE (Faktor Intrinsik Eritropolitik).
Merupakan mukroprotein yang ber fx untuk membantu penyerapan vit B12 dalam usus.
Makanan yang masuk ke dalam lambung akan dipecah oleh enzim pepsin menjadi pepton protein, pepton dan protease akan diurai oleh enzim proteolitik menjadi asam amino.
 Proses pembentukan getah lambung melewati 3 fose :
1.      Fase Ghepalli
Ø  Melihat
Ø  Mencium         makanan à kortek cerebri à nerves vasus sel yang terdapat
Ø  Merasakan       dalam lambung à menghasilkan HCl, pepsin, mucin, FIE
Ø  Memikirkan
2.      Fase Intestinal
Makanan yang sampai di duodenum à selaput lendir duodenum à aktivase humoral à merangsang sekresi lambung
3.      Fase Gastrin
Ø  Merangsang sekresi HCl dan pepsin
Ø  Merangsang sekreasi FIE
Ø  Merangsang sekresi enzym pencernaan
Gastrin à suatu zat yg dihasikan oleh kelenjar gastrin oleh karena adanya pengaruh hormon gastrin.

Fungsi Lambung:
1.      Sebagai bactericid ringan
2.      Sebagai pencernaan makanan
3.      Sebagai daya reabsorbsi dari makanan yang rendah
4.      Mengekskresikan mucin, gastrin dan FIE

v  Lambung dalam keadaan tenang hanya sedikit asam lambung yang dihasilkan, sekresi bertambah karena ada rangsangan neural dan hormonal.
v  Rangsangan itu tidak perlu berupa santapan sekreasi terjadi karena faktor psikis (melihat/mencium bau makanan).
v  Rangsangan dari nervus vapus akan memacu sel paretal dan set atrium untuk memproduksi gastrin.
Isi gastrin akan bertambah karena dinding lambung tertekan oleh makanan dan karena adanya produk perombakan protein (memberi suasana alkali) produksi asam lambung yang selanjutnya berasal dari duodenum, yaitu bila selaput lendir duodenum isi lambung akan mengeluarkan aktivator humoral yang akan memacu sekresi lambung, akan tetapi ada pula penghambatan.
v  Proses Linipan balik (Feed back) à bila pH getah lambung rendah (1,5) akan menghambat proses asing.
Kegunaan pemeriksaan getah lambung :
1.       Untuk mengetahui motilitas lambung : kemampuan lambung untuk meneruskan isinya ke duodenum.
2.       Untuk mengetahui sekresi lambung.
3.      Untuk mencari adanya unsur-unsur abnormal
4.      Untuk medical forensik, misal: pada kasus keracunan (untuk obat otopsi / biopsi)
5.      Untuk pemeriksaan sitologi à px untuk mengetahui adanya sel tumor.
Cara memperoleh getah lambung :
1.       Sandage lambung
2.      Endogkopi
3.      Ultrasonografi

Metode Konvensional / sederhana
Keuntungan             : Bahaya radiasi tidak terlalu besar
Kerugian      : Penderita merasakan sakit

v  Pengambilan getah lambung dengan alat sonde disebut sondage
Ada 3 macam :  Sonde Wangestane         :  45, 55, 65, 75, cm
Sonde Levine     : 50, 60, 70, 80, cm
Sonde Rile         : 49, 65, 81 cm
v  Cara Pengambilan :
  • Penderita sebelumnya puasa semalam (10 jam)
  • Penderita disuruh duduk, pasang serbet pada lehernya dan penampung pada tangannya.
  • Penderita harus tenang, bernafas dengan mulut, kepala agak menunduk dan lidah agak   dijulurkan.
  • Masukkan ujung sonde ke dalam sampai hampir menyentuh dinding belakang farink
  • Bila garis gigi seri telah bertepatan antara garis-garis sonde, itu menandakan bahwa ujung sonde itu sudah berada dalam lumen lambung. Untuk orang gugup sering tidak bisa menelan sonde, maka ia boleh ditolong dengan mengabutkan tenggorokannya dengan cocain 1% atau boleh juga dalam hal ini sonde dimasukkan dalam esofagus melalui dinding lambung. Cocain  1% berfungsi untuk mematikan rasa / anestesi.
  • Isi lambung dapat dihisap dengan balon / spuit yang dipasang pada ujung luar sonde.
v  Kontra indikasi :
  1. RELATIF
-          Wanita hamil
-          Orang sakit berat
  1. ABSOLUT
-          Kanker lambung
-          Decompensasio cardis (gagal jantung)
-          Aneurisma aorta (penyimpangan pembuluh darah)
-          Varises esofagus
-          Orang yang menghisap zat asam basa kuat
v  Pemeriksaan getah lambung meliputi :
A.    Pemeriksaan Motilitas
-          Fungsinya adalah untuk mengetahui kemampuan getah lambung meneruskan isinya ke duodenum
-          Motilitas turun jika :
a.       Volume getah lambung meningkat
b.      Sisa makanan (+)
B.     Pemeriksaan Makroskopis
1.      Volume
Normal      : 25 – 75 ml
Abnormal :  -  < 25 ml à Hiposekresi / Hipoaddity
-    > 75 ml à Hiperseksi / Hiperaddity
-    > 100 ml à terjadi pada keadaan patologis misal:
a.       Sindrome zellinger ellision (vol meningkat)
b.      Gastritis kronis
c.       Obstruksi  pholorus (motilitas menurun)        
2.      Warna
Normal      : abu-abu mutiara
Abnormal:
a.       Hijau disebabkan oleh biliverdin        regurgitasi duodenum ke dalam
b.      Kuning disebabkan oleh bilirubin       lambung/naiknya isi duodenum ke   lambung.                  
c.       Merah disebabkan oleh darah karena :
-          trauma pada pengambilan
-          pendarahan lambung        
d.      Coklat disebabkan oleh Hb yang terdenaturasi (hematin)
3.      Bau
Normal      : agak asam
Abnormal:
a.       Asam keras à adanya statis yang disertai peragian
b.      Busuk à nekrosis lambung
c.       Faeces à statis dalam usus dan  fistel antara usus dan lambung
4.      Lendir
Normal      : (-)
Abnormal : (+) mungkin berasal dari mulut /saluran pencernaan
Ciri lendir dari nafas :
a.       Tidak homogen
b.      Terapung di atas permukaaan air
c.       Terdapat gelembung udara
d.      Tampak garis-garis halus
e.       Pada mikros sel ephel meningkat
Cara mengetahui dengan menuang cairan dari gelas kimia lain.
Pengaruh lendir :
§ Lendir dalam getah lambung akan mengikat sebagian asam basa sehingga hasil akan rendah palsu dan pada asam total tidak berubah.

5.  Sisa Makanan
Normal      : (-) karena sisa makanan telah dilanjutkan ke duodenum
Abrnormal : (+) karena :    à Motilitas lambung berkurang
                                          à Adanya sumbatan pada pylorus
     
5.      Pus
Normal      : (-) 
Abrnormal : (+) à   a. Berasal dari saluran makanan
b. berasal dari saluran pernafasan dan adanya sputum yang tertelan
Adanya pus dapat dibuktikan dengan px mikroskopis sehingga didapatkan lekosit meningkat.
6.      Potongan Jaringan
Normal      : (-)                 
Abnormal : (+) Menunjukkan adanya proses tumor
C. Pemeriksaan  Mikroskopis
Sample terbaik : Keadaan puasa, bila tidak puasa sisa makanan akan mempengaruhi hasil pemeriksaan, supaya sample betul-betul murni dari lambung tidak dipengaruhi sisa makanan.
Metode :
1.      NATIF
-          Setetes getah lambung diletakkan di atas obyek glass kemudian hapus dengan deck glass.
-          Periksa di bawah mikroskop obyektif 10 x dan 40 x
-          Unsur yang mungkin terlihat :
·                     Erytrosit                      Sel Epitel
·                     Lekosit                        Sisa makanan
-          Jika : ~ Vol ume meningkat
~  Sisa makanan  (+ +)
-    Gunzburg  (-),(-)       Keliling  (+), (-)
-    Batang gram (+)
2.      PENGECATAN
a.       Lemak             : Sudan III
b.      Amylum          : Lugol
c.       Leptospira       : Lofler
d.      Gram dan ZN  : Untuk mencari kuman
-          Kuman pengecatan gram
Sarcina : -     Bentuk coccus susunan seperti kubus
-          Gram (+)
-          Menyebabkan statis tanpa anchordidria
-          Boas aplar : - Bentuk batang berkelok-kelok
                                      -   Gram (+)
                 -   Pemeriksaan Kehling (+) à Karena menghilangkan asam  laktat
                                           -    Menyebabkan stasis dengan anchlorhidria

v                Anchilorhidria à Suatu keadaan dimana pH > 3,5 dan tak akan turun > 1 satuan setelah dilakukan perangsangan secara maximal.
v                Pochlorhidria  à Suatu keadaan dimana pH > 3,5 dan akan turun > 1 satuan setelah dilakukan perangsangan secara maximal.
v           Acydity à Suatu keadaan dimana pH > 6 dan akan turun > 1 satuan setelah perangsangan secara maximal.
-          Kuman pengecatan 2N
M. TBC à  Dengan NaCl  0,9%.
Untuk mendapatkan hasil yang berarti, bahan dihomogenkan, dipusing, dibuang cairan atasnya dan lakukan pada sediment, pemeriksaan makros, culture, percobaan binatang.
Maksud dihomogenkan adalah untuk mendapatkan kuman TGC
v  Papanicolour : untuk mencari adanya sel-sel kuman
v            Peroxidase : untuk membedakan lekosit dari jenis granulocyte dan monosit peroxidase (+), sedang limfosit (-).

D. Pemeriksaan Kimia
1. KEASAMAN GETAH LAMBUNG      
a.       Pemeriksaan HCl  bebas
-    Tujuan : ~ Untuk mengetahui apakah lambung mersekresikan HCl / tidak
                           ~ Untuk mengetahui apakah HCl yang disekresi lambung dalam
                               batas normal/tidak.
-    Syarat :  a. Tidak ada lendir
b. pH (4 karena HCl bebas dapat terdeteksi pada pH 2,5)
-    Bahan pemeriksaan: *Dari sordage lambung
                        * Muntahan penderita
-    Metode :
1)      Indikator Toeffer (spesifik)
Tujuan: Untuk mengetahui ada / tidaknya HCL dalam getah lambung
Prinsip: Asam total dalam getah lambung akan beraksi dengan toeffer      membentuk warna merah.
Cara kerja :
1.      Masukkan 1 ml getah lambung ke dalam tabung serologi
2.      Tambahkan 1 tetes indikator toeffer, campur
3.      Amati hasil : jika (+) terjadi warna merah
                                       jika (-) terjadi warna kuning
Harga normal: (+) terjadi warna merah
Komposisi Indikator Toeffer
à Paradimethyl amino azobenzena : 0,6 gr
à Alkohol 95 %  ad                          :100 ml
2)      Indikator Gunzburg
Tujuan: Untuk mengetahui ada / tidaknya HCl bebas dalam getah  lambung
Prinsip: HCl bebas dalam getah lambung akan bereaksi dengan indikator gunzburg memberi warna merah.
Cara kerja :
1.      Masukkan 5-10 tetes indikator gunzburg dalam cawan penguap
2.      Panaskan cawan penguap tersebut diatas air mendidih sampai kering dan menimbulkan bercak berwarna kuning
3.      Tambahkan beberapa tetes getah lambung yang diperiksa ke atas bercak yang telah mengering
4.  Adanya perubahan warna yang menjadi merah jambu berarti (+)
Komposisi indikator Gunzburg
àPhloroglucinol            : 2 gr
àVanillin                      : 1 gr
àAlkohol 96%              : 330 ml
Tujuan pemanasan :
1.  Menghindari pengarangan sehingga mudah diamati
2.  Agar reagen tidak mudah menguap (alkohol)
-    Indikator toeffer tidak bersifat spesifik karena pada reaksi toeffer bukan hanya HCl  saja tetapi asam total juga bereaksi :
-    Asam total à HCl  bebas + asam organik
Misal : laktat, carbonat, acetat, butirat, fosfat dan protein
b.   Pemeriksaan Getah Lambung Bertingkat
-    Tujuan : Untuk mengetahui jumlah HCl yang disekresikan oleh lambung dalam jumlah normal.
-    Zat perangsang yang digunakan:
1)      Alkohol 7%
·   Cara pemberian : melalui mulut/peroral sebanyak 520 ml tiap 30’
·   Kelemanhan : kurang efektif, merupakan zat perangsang yang lemah
2)      Histamin
·   Cara pemberian : Dengan suntikan secara subcutan sebanyak 0,04 mg per kg berat badan.
·   Kelemahan : Merupakan zat yang dapat menyebabkan reaksi alergi (dapat menimbulkan reaksi shock anaphilastic).
3)      Pentazole hidrochloride/histalog à paling baik
·   Cara pemberian : Suntikan subcutan sebanyak 0,5 mg/kg BB
4)      Pentagastrin à paling baik
·   Cara pemberian : Suntikan ultramuscular sebanyak 0,5 mg/kg BB
-    Cara kerja :
1.      Pasien dilakukan sondage lambung dengan posisi nuchter, kemudian dimasukkan 50 ml alkohol 7% ke dalam lambung pasien lewat sonde/dapat juga disuntikan dengan perangsang lain.
2.      Tiap 10’ dan 15’ isi lambung dihisap dan tiap porsi disimpan sendiri.
3.      Percobaan dihentikan 1 ½ - 2 jam setelah rangsangan.
4.      Ambli 5 ml dari tiap porsi dan lakukan titrasi dengan :
a.       1 – 2 tetes indikator toeffer.
b.      Titrasi dengan NaOH oleh N sampai terjadi perubahan warna dari merah menjadi kuning.
5.      Baca berapa ml NaOH 0,1 N yang terpakai untuk menunjukkan HCl bebas.
6.      Tambahkan 2 tetes indikator PP 1%.
7.      Titrasi lagi dengan NaOH 0,1 N sampai warna kuning berubah menjadi merah jambu.
8.      Baca berapa ml NaOH 0,1N yang terpakai. Jumlah itu  menunjukkan jumlah asam total à ml NaOH x 100
                     vol GL

-    Pemeriksaan getah lambung bertingkat dikatakan anchlorhidria sejati bila setelah 1 jam dilakukan rangsangan tidak didapatkan HCl
-    Cara menyatakan hasil :
1 satuan / pH/meq HCl per liter yang artinya banyaknya ml NaOH 0,1 N yang digunakan untuk menetralkan 100 ml getah lambung
Misal : Getah lambung yang digunakan 5 ml (HCl = 1 ml, Asam total = 2,4 ml), maka harus dikalikan 20 supaya menjadi 100 ml
-          1 x 20 = 20 ml
-          2,4 x 20 = 48 ml
Jika menggunakan NaOH 0,5 N, maka :
-          1 x 5 = 5 x 20 = 100 ml
-          2,4 x 5 = 1 x 20 = 240 ml
(Jika NaOH < 0,1 N,maka dibagi, jika > 0,1 N maka dikali)
·         Contoh soal :
Dalam pemeriksaan getah lambung bertingkat dibutuhkan 1,5 ml lart NaOH 0,01N untuk terjadi perubahan warna dari merah menjadi kuning, kemudian thrasi dilanjutkan lagi dengan menggunakan indikator PP. Ternyata dibutuhkan 5 ml inrt NaOH 0,01 N terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah jambu. Hitung kadar HCl bebas dan asam total dalam lambung tersebut, getah lambung 2 ml.
Jawab :      HCl bebas = 1,5 ml
                  Asam total = 5 ml
                  Getah lambung = 2 ml
HCl bebas = 5 ml, NaOH = 0,01 N à
                      1,5 : 10 = 0,15 ml NaOH
Asam total = 5 ml, NaOH = 0,01 N à
                      5 : 10 = 0,5 ml NaOH
Hasil : 0,15 x 50 = 7,5 satuan HCl bebas
            0,5 x 50 = 25 satuan Asam total
Harga normal : HCl bebas = 25 – 50 satuan
                          Asam total = 50 – 75 satuan
c.   Pemeriksaan Tubulus Gastric Aralisis
-    Tujuan : untuk mengetahui : ratio BAO dan MAO
-    Cara kerja :
Kepada penderita diberi 1 tablet yang mengandung resin yang terikat dengan zat warna azure A. Oleh karena pengaruh asam lambung sebagian dari azure A akan dilepas dari resin. Banyaknya azure A akan dilepas sesuai dengan banyaknya asam lambung. Azure A akan diserap oleh usus dan dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal Banyaknya Azure A yang dalam urine menjadi ukuran untuk mereduksi asam lambung.
-    Keuntungan : Penderita tidak merasa sakit
-    Kelemahan :
Pemeriksaan tidak berarti bila :
·   Penyakit hati (zat warna dihasilkan tidak dapat diekskresi)
·   Retensio urine (karena pengeluaran urine terhambat)
·   Penyerapan usus yang tidak baik (zar warna yang dihasilkan tidak baik)
BAO (Basal Acid Output) à jumlah meq sekresi HCl maximal sebelum dilakukan perangsangan.
MAO (maximal add output) à jumlah meq sekreasi maximal selama 1 jam setelah dilakukan perangsangan.

2.   PEMERIKSAAN PEPSIN
      Indikator : Anchlorhidria
Prinsip : Adanya pepsin dalam getah lambung akan menguraikan substrat putih telur dalam waktu 24 jam suhu 370C.
Cara kerja :
1)      Buatlah substrat putih telur dengan cara :
-    Rebuslah sebutir telur kemudian kupas dan buang kuningnya
-    Putih telur beku dipotong membentuk lempeng dengan ukuran p = 5 mm , l = 1 m
2)      7 – 8 getah lambung ditambah HCl 0,1 N sebanyak 7-8 ml, kemudian dicampur dan dibagi dalam 3 tabung dalam volume yang sama banyak (A, B, C).
3.      Tabung A à ditambah pepsin + 2 lempeng telur (sebagai kontrol (1))
Tabung B à dipanaskan + 2 lempeng telur (sebagai kontrol (-))
Tabung C à tambah 2 lempeng telur + toluena (sebagai katalisator)    Fungsi memanasan pada tabung B adalah untuk menghilangkan enzim-enzim
4.      Incubasi pada suhu 370 C selama 24 jam
5.      Bandingkan besarnya lempeng telur pada 3 tabung dalam keadaan normal :
Tabung A: lempeng telur hilang
Tabung B: lempeng telur tidak hilang
Tabung C : lempeng telur hilang
3.PEMERIKSAAN ASAM LAKTAT
Indikasi : Hipochlorhidra dengan HCl bebas < 20 satuan
         Tujuan : untuk membedakan hasil (+) yang disebabkan HCl / asam yang lain  
Ø Keadaan yang menimbulkan asam laktat :
a. Fungsi sekresi lambung menurun
b.Fungsi motorik lambung menurun
c.Adanya kuman Bacillus boar opler
4.Pemeriksaan Kehling
Tujuan :  
Prinsip : Reaksi antara FeCl3 : 10% dengan asam laktat membentuk ferrylaktat yang berwarna kuning
Cara kerja :
1.      Masukkan 20 ml aquadest dalam tabung reaksi
2.      Tambahkan 5-10 tetes larutan FeCl­3 10% kemudian campur dan bagi menjadi 2:
3.      Tabung I : sebagai test + 1 ml getah lambung yang telah disaring
tabung II : sebagai kontrol + 1 ml aquadest
4.      Bandingkan jika pada tabung test lebih kuning dari tabung kontrol maka hasil test (+) dengan latar belakang putih
Harga normal : (-) tidak terjadi warna kuning melebihi kontrol
Ø  Fungsi penyaringan : Agar tidak mengganggu perubahan warna