Problematika
kesehatan reproduksi remaja
1.Mengapa
remaja perlu diperhatikan ?
a.jumlah remaja sangat besar
b.remaja merupakan masa transisi
yang labil
c.remaja merupakan generasi
harapan bangsa
Mengapa informasi KRR diperlukan ?
Remaja mempunyai hak atas informasi
dan pelayanan yang dibutuhkannya untuk membuat keputusan – keputusan yang sehat
dalam hidupnya.
Masyarakat Internasional juga menegaskan bahwa hak dan kewajiban orang tua untuk memberikan
pedoman tidak boleh menghalangi remaja memperoleh akses pada informasi dan
pelayanan yang mereka butuhkan untuk memperoleh kesehatan reproduksi yang baik.
2.Membantu remaja mengambil keputusan
Dengan
informasi dan pelayanan KRR yang tepat , remaja terbantu untuk mengenali
dirinya sendiri maupun hal – hal yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksinya.Dengan mempunyai informasi yang benar , mereka dapat membekali
dirinya dengan perilaku dan ketrampilan yang dapat melindungi dirinya dari
berbagai resiko.Remaja harus dapat mengambil keputusan - keputusan yang tepat menyangkut kesehatan
reproduksinya, misalnya : menolak hubungan seks pra nikah , menjaga diri dari
ajakan untuk menyalahgunakan NAPZA , dan seterusnya.
Mengapa program KRR penting ?
1.Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat rendah
Berbagai penelitian di
Indonesia , bahkan di berbagai negara lain , menunjukkan betapa masih rendahnya
pengetahuan remja mengenai
cara – cara melindungi dirinya terhadap resiko kesehatan
reproduksi seperti pencegahan KTD, IMS , HIV / AIDS.Akibatnya angka KTD di
kalangan remaja sangat tinggi dan angka HIV / AIDS pada kelompok remaja usia 15
– 24 terus meningkat.Lebih dari 10 juta remaja sudah tertular HIV di dunia.Setiap tahun hampir 50 % dari infeksi baru HIV terjadi di
kalangan remaja usia produktif, yaitu antara 15 – 24 tahun.Sepertiga dari kasus
IMS terjadi di kalangan remaja di bawah usia 25 tahun.
MAU MENUNGGU BERAPA LAMA
LAGI ? MASIH PANTASKAH KITA BERDIAM DIRI DAN MEMBIARKAN SITUASI BERJALAN APA
ADANYA ?
2.Akses pada informasi
yang benar tentang kesehatan reproduksi sangat terbatas
Masih
berlakunya budadaya “ tabu” untuk membahas masalah – masalah seksualitas membuat informasi tentang
seksualitas tidak mudah diperoleh.Remaja mempunyai akses yang terbatas pada
informasi yang benar baik dari orang tua,dari sekolah maupun media massa,karena
remaja seringkali tidak memperoleh informasi yang jelas mengenai seksualitas
dan kesehatan , maka mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapi hubungan
seksual atau tidak mampu melindungi dirinya sendiri terhadap IMS , KTD ,dan
resiko lainnya.
3.Informasi yang menyesatkan semakin gencar
Orang
dewasa, khususnya orang tua sebagai sumbere utuma bagi anak dan remaja untuk
memperolah informasi ,semakin lama semakin langka ( karena kesibukan) atau
semakin tidak memahami ancaman-ancaman baru terhadap kesehatan reproduksi.
4.Kesehatan reproduksi berdampak jangka panjang
Keputusan – keputusan
menyangkut kesehatan reproduksi mempunyai konsekuensi atau akibat – akibat
jangka panjang dalam perkembangan dan kehidupan social remaja.Kesehatan ,
pendidikan dan persiapan untuk dunia kerja saling berkaitan,contoh : Kehamilan Tak Diharapkan
(KTD) bias langsung mengganggu kehidupan seorang remaja perempuan, membatasinya
dari pendidikan lebih lanjut.Tertular HIV karena hubungan seksual yang tidak
aman bias mengakhiri sebuah masa depan yang sehat dan cerah pada seorang
remaja.Berbagai resiko ini bias
berakibat serius secara medis,psikologis,social dan ekonomi.
5.Status KRR yang rendah akan merusak masa depan remaja
Kebanyakan
remaja dimanapun menjadi aktif secara seksual pada usia pubertas.Berbagai
penelitian di berbagai Negara maupun di Indonesia sendiri.
6.Kesepakatan Internasional
Masyarakat Internasional
terus menerus mengukuhkan pentingnya memperjuangkan hak remaja untuk memperoleh
informasi dan pelayanan KRR.Salah satu kesepakatan yang harus di jalankan
adalah memenuhi HAK remaja untuk memperoleh informasi dan pelayanan KRR yang
dibutujkan remaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar