Kamis, 26 April 2012

pengaruh perebusan mie terhadap kadar borak


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Selain lezat dan bergizi, makanan juga harus aman bagi kesehatan. Kesadaran masyarakat Indonesia tentang hal ini masih sangat rendah. Baik konsumen maupun produsen kurang memperhatikan keamanan dari sebuah makanan. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan atau keadaan ekonomi masyarakat yang relatif kurang, sehingga memaksa mereka untuk makan apa adanya.
Mie merupakan salah satu makanan yang paling diminati oleh semua kalangan masyarakat. Selain rasanya yang enak harga mie juga relatif terjangkau. Tidak sedikit orang yang tergila- gila terhadap mie bahkan ada yang menggunakan mie sebagai makanan pokok karena cara pengolahannya yang mudah dan cepat.
Dibalik kelezatan mie, banyak orang yang tidak memperhatikan bahaya dari mie itu sendiri. Bahan –bahan yang ditambahkan dalam mie seperti pewarna, pengenyal, pengawet dll apabila terlalu banyak dikonsumsi akan menyebabkan gangguan kesehatan.
Penambahan pengawet pada mie, terutama mie basah haruslah di waspadai. Menurut Permenkes RI No.722/Menkes/Per/IX/88/ dan No. 1168/Menkes/PER/X/1999 borak merupakan salah satu pegawet yang dilarang untuk digunakan, tapi masih saja ada penjual yang berlaku curang dengan menambahkan borak sebgai pengawet tanpa memikirkan bahaya dari penggunaan bahan pengawet tersebut.
Tidak banyak orang yang mengetahui cara membedakan mie yang mengandung borak atau mie yang tidak mengandung borak. Sehingga diharapkan dalam pengolahan mie tersebut dapat mengurangi kandungan borak dalam mie basah.
Oleh karena penjabaran diatas, penelti ingin mengetahui pengaruh pengolahan (perebusan) mie basah terhadap kandungan borak didalamnya.
B.     Rumusan Masalah
Apakah terdapat pengaruh dari perebusan mie terhadap kadar borak yang terkandung dalam mie basah?























Bab II
Metode Penelitian

Dasar Teori
A.    Mie Basah
Mie dilihat dari bahan dasarnya dapat dibuat dari berbagai macam tepung, yaitu tepung terigu, tepung tang mien, tepung beras, tepung kanji, dan tepung kacang hijau. Mie dipasarkan dalam bentuk kering dan basah. Mie dapat dikelompokkan ke dalam jenis:
·         Celophane noodles, dikenal dengan sebutan soun.
·         Mie telur, mie yang terbuat dari tepung terigu jenis hard wheat dan diperkaya dengan telur.
·         Hokkien noodles, sering disebut dengan mie hong kong.
·         Ramen, dikenal dengan sebutan mie keriting cina.
·         Rice stick noodles, di Indonesia lebih populer dengan sebutan kwetiau.
·         Somen noodles, terbuat dari tepung gandum dan minyak.
·         Soba noodles, hampir sama dengan mie somen.
·         Rice Vermicelli, di Indonesia populer dengan sebutan bihun.
·         Mie shoa, mie asal cina.
·         Wonton, di Indonesia dikenal dengan sebutan kulit pangsit.
Mie basah pertama kali dibuat di daratan Cina sekitar 20 tahun yang lalu, pada masa pemerintahan Dinasti Han. Dari Cina, mie basah berkembang dan menyebar ke Jepang Korea, Taiwan , dan negara- negara Asia Tenggara. Bukan hanya di Asia, mie basah pun berkembang di Benua Eropa. Mie basah mulai dikenal di Benua Eropa setelah Macopolo, penjelajah dari Venesia Italia, berkunjung ke Cina dan membawa oleh- oleh mie basah. Mie basah awalnya diproduksi secara manual. Baru pada tahun 700-an sejarah mencatat terciptanya mesin pembuat mie basah berukuran kecil dengan menggunakan alat mekanik. Mie basah adalah produk bahan pangan yang terbuat dari tepung terigu, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain. Bentuk khas mie basah ( Sesuai dengan standart industri Indonesia) yaitub panjang, kecil, dan basah. Mie basah merupakan mie yang djual dalam tekstur tidak dikeringkan (basah)
 (Tian. 2009)
Kualitas mie basah menurut SNI;
No.
Kriteria Uji
Satuan
Pesyaratan
1
Keadaan :
1.1  Bau
1.2  Rasa
1.3 Warna


-

Normal
Normal
Normal
2
Kadar air
% b/b
20 - 35
3
Kadar abu (dihitung atas
dasar bahan kering),
% b/b
Maks. 3
4
Kadar protein ((N x 6.25)
dihitung atas dasar bahan
kering)
% b/b
Min. 3
5
Bahan tambahan pangan 
5.1  Boraks dan asam borat
5.2  Pewarna   
5.3  Formalin


-

Tidak boleh ada
Sesuai SNI-0222-M dan peraturan MenKes. No.
722/Men.Kes/Per/IX/88
Tidak boleh ada
6
Cemaran logam :
6.1  Timbal (Pb)
6.2  Tembaga (Cu)
6.3  Seng (Zn)
6.4  Raksa (Hg)


mg/kg

Maks. 1.0
Maks. 10.0
Maks. 40.0
Maks. 0.05
7
Arsen (As)
mg/kg
Maks. 0.05
8
Cemaran mikroba :
8.1  Angka lempeng total
8.2  E. coli
8.3  Kapang

Koloni/g
APM/g
Koloni/g

Maks. 1.0 x 106
Maks. 10
Maks. 1.0 x 104

B.     Pengawet Makanan
Bahan pengawet umumnya digunakan untk mengawetkan pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. Bahan ini dapat menghambat dan memperlambat proses fermentasi, pengasaman, atau penguraian yang disebakan oleh mikrobia. Penggunaan pengawet dalam pangan harus tepat, baik jenis maupun dosisnya. Suatu bahan pengawet mungkin efektif untuk mengawetkan pangan tertentu, tapi tidak efektif untuk mengawetkan pangan lainnya karena pangan mempunyai sifat yang berbeda-beda.
Jenis pengawet:
·         Zat pengawet anorganik
Contoh: sulfit, hidrogen, peroksida, nitrat, dan nitrit.
·         Zat pengawet organik
Contoh: bentuk asam  borax ataupun bentuk garamnya
Tujuan Pengunaan Bahan Pengawet
1.      Menghambat pertumbuan mikroba pembusuk pada pangan baik yang bersifat patogen  maupun yang tidak patogen
2.      Memperpanjang umur simpan pangan
3.      Tidak menurunkan kualitas gizi, warna, cita rasa, dan bau bahan pangan yang diawetkan
4.      Tidak untuk menyembunyikan bahan pangan yang berkualitas rendah
5.      Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau tidak memenuhi persyaratan
6.      Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan pangan  (Cahyadi.2009)
  Borak
Asam borak (H3BO3) merupakan senyawa bor yang dikenal juga dengan nama borak. Di Jawa Barat dikenal juga dengan nama “bleng” , di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan nama pijer. Digunakan atau ditambahkan ke dalam pangan atau bahan pangan sebagai pengenyal ataupun sebagai pengawet. Komposisi dan bentuk asam borat mengandung 99,0% dan 100,5% H3BO3. Mepuyai bobot molekul 61,83 dengan B=17,5550%; H=4,88%; O=777,62% berbentuk  erbuk hablur kristal tansparan atau granul putih tak bbberwana dan tak berba serta agak manis.
Senyawa asam borat ini mempunyai sifat- sifat kimia sebagai berikut: jarak lebur sekitar 171oC. Larut dalam 188 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian gliserol 85%, dan tak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahan asam klorida, asam sitrat, atau asam tartart. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 100oC yang secara perlahan berubah menjadi asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan asam lemah dan garam akalinya bersifat basa. Satu gram asam borat larut sempurna dalam 30 bagian air menghasilkan larutan yang jernih dan tak berwarna. Asam borat tak tercampur dengan alkali karbonat dan hidroksida.
Efek farmakologi dan toksisitas senyawa boron atau asam borat merupakan bakterisida lemah. Larutan jenuhnya tidak membunuh Staphylocccus aureus. Oleh karena itu toksisitasnya lemah sehingga dapat digunakan sebagi bahan pengawet pangan. Ataupun demikian, pemakaian berulang atau absorbsi berlebihan dapat mengakibatkan toksik (keracunan). Gejala dapat berupa mual, muntah, diare, suhu tubuh menurun lemah, sakit kepala, rash erythematous, bakan dapat menimbulkan shock. Dilihat dari efek farmakologi dan toksistasnya, maka asam borat dilarang digunakan dalam pangan.
                                                                          ( Cahyadi.2009 )
C.    Alkalimetri
Alkalimeti termasuk reaksi netralisasi yakni antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi juga dapat dikatakan sebagai reaksi donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). Alkalimetri merupakan penetapan kadar secara kuantiatif terhadap senyawa- senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan larutan baku basa.
Ada 3 pengertian mengenai apa yang disebut dengan asam dan apa yang disebut dengan basa:
Teori
Asam
Basa
Arrhenius
Donor proton (H+)
Donor hidroksida ( OH-)
Bronsted
Donor proton
Akseptor proton
Lewis
Akseptor pasangan elektron
Donor pasangan elektron
Seperti telah diterangkan di atas, bahwa netralisasi adalah reaksi antara ion H+ dari asam dengn ion OH- dar baasa dan mementuk molekul air. Reaksi netralisasi harus berlangsung sesempuna mungkin, hal ini dapat dilakukan dengan eberapa cara sebagai berikut:
a.       Dengan terbentuknya hasil reaksi yang menglami disosiasi lemah.
b.      Dengan terjadinya hasil reaksi sebagai gas ata sebagai endapan.
c.       Dengan memisahkan ion sebagai ion kompleks.
Untuk  menetapkan titik akhir (titik ekivalen) pada proses netralisasi  ini digunakan indikator. Menurut W. Ostwald , indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam (HIn) atau dalam bentuk basa (InOH) yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain pada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu.
Cara kerja
      Uji kualitatif
1)      Asam Sulfat Pekat:
Tidak terjadi sesuatu kerja yang dapat dilihat dalam keadaan dingin meskipun asam ortoborat dibebaskan. Namun, ketika dipanaskan asap putih asam borat dilepaskan. Jika asam klorida pekat ditammbahkan kepada larutan boraks yang pekat, asam borak mengendap.
                                                                        asap putih
Na2B4O7 + H2SO4 + 5H2O  → 4H3BO3↑ + 2Na+  +SO42-
Na2B4O7 + 2HCl + 5H2O  → 4H3BO3↓ + 2Na+ + 2Cl-
2)      Asap Sulfat Pekat dan Alkohol (uji nyala api)
Sampel (dipanaskan sampai bentuk karang)+ 1 ml metanol/ etanol
(cawan porselen/ cawan pengaup) →(dibakar) nyala hijau
Nyala hijau disebabkan oleh terbentuknya metil borat B (OCH3)3 atau etil borat B(OC2H5)3
H3BO3 + 3CH3OH → B(OCH3)3 ↑ +3H2O
3)      Larutan Perak Nitrat
Endapan putih perak metaborat AgBO2
B4O72- + 4Ag+ +H2O  → 4AgBO2↓ +2H+
                                                  putih perak
2AgBO2↓ + 3H2O → Ag2O↓ + 2H3BO3
                                    Coklat perak oksida



4)      Larutan Barium Clorida
Endapan putih barium metaborat , Ba(BO2)2
B4O72- + 2Ba2+ +H2O → 2Ba(BO2)2↓ + 2H+
                                                                         putih
                                                                                                (Vogel.1979)
Untuk sampel yang positif lakukan uji kuantitatif
Sebelum mie direbus melakukan pemeriksaan kuantitatif
Uji kuantitatif
                     I.            Penetapan kadar
1.      Sampel mie dihaluskan
2.      Timbang seksama 3 gram bahan
3.      Larutkan dengan 50ml aquades
4.      Panaskan sampai mendidih dan ambil filtrat dengan kertas saring.
5.      Memipet sampel 10,0 ml, masukkan dalam erlemeyer 
6.      Menambah 10 ml gliserin netral
7.      Menambah  5 tetes indikator PP 1 %
8.      Menitrasi dengan standar basa ( NaOH atau KOH) yang diketahui normalitasnya sampai warna merah jambu muda
9.      Rumus perhitungan kadar:
%H3BO3 =       (V X N) NaOH X BM X 100%      =                 %
                    Valensi X pemipetan sampel(ml)X1000

          (Anonim. 1993)
                  II.            Standarsasi standar NaOH
1.      Pipet 10,0 Ml larutan standar primer H2C2O4.2H2O dan masukan ke dalam erlenmeyer
2.      Tambahkan 3 tetes indikator PP 1%
3.      Titrasi dengan larutan NaOH hingga terbentuk warna merah muda konstan
Setelah melakukan uji kuantitatif terhadap mie sebelum dilakukan perebusan, ambil sampel (pastikan penimbngn benar-benar sama).
Rebus mie dengan menggunakan aquadest mendidih 100oC selama 5 menit (sesuai dengan ketentuan) dalam becker glass
Melakukan uji kuantitatif setelah mie direbus
Menghitung kadar boraks

Hasil :
No
Suhu / Waktu
Kadar sebelum direbus
Kadar setelah direbus
1
100oC/5 menit


2
>100oC/5 menit


3
<100oC/5menit


4
100oC/>5menit















Bab III
Kesimpulan


Hal- hal penting yang perlu diperhatikan dalam percobaan:
1)      Pengaruh suhu dan waktu yang dipakai saat pemanasan.
2)      Berat penimbangan sampel sebelum direbus dan sesudah direbus diperhatikan karena sampel yang digunakan sebelum dan sesudah di rebus berbeda.
Manfaat percobaan bagi masyarakat:
a)      Konsumen dapat mengetahui cara mengurangi kadar borak dalam mie.
b)      Konsumen dapat mencegah bahaya dari borak.
c)      Mengetahui fungsi perebusan mie sampai matang benar.
d)     Dapat lebih berhati- hati dalam memilih mie yang tidak mengandung borak.













Daftar Pustaka

Anonim. 1993. Penuntun Praktek Ilmu Kimia Analisa.Jakarta: Departemen Kesehatan Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Cahyadi. 2009. Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Bumi Aksara
G.Svehla...[et al]. alih bahasa,A.Hadyana P.,L.Setiono-Buku teks analisis anorganik makro dan semimikro edisi V-Jakarta: PT Kalman Media. 1985
Mursyidi. 2008. Volumetri & Gravimetri. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tian. 2009. Perencanaan Usaha Mie Basah. Bandung: Titian Ilmu
.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar